Tampilkan postingan dengan label rizal ramli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rizal ramli. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Februari 2014

“Falsafah” Suku Makassar-Bugis dan Jiwa Rizal Ramli

[RR1online]:
RIZAL RAMLI memang lahir di Padang-Pulau Sumatera, tetapi saat menjelang usia tujuh tahun, ia sudah harus diasuh neneknya di Bogor-Jawa Barat karena ketika itu kedua orangtuanya telah berpulang ke Sang Maha Pencipta. Sehingga di saat itulah ia menjadi “orang Jawa”. Yakni makan, minum, tidur, dan bermain serta bersekolah di SD, SMP, dan SMA di Bogor. Lalu dilanjutkan kuliah di ITB.

Sebagai bocah yatim-piatu yang bukan berasal dari kalangan keluarga konglomerat, Rizal Ramli tentu tak bisa menikmati hidup dengan senang, tetapi bukan berarti ia harus pasrah menerima hidup melarat hingga berkarat. Tidak seperti itu!

Artinya, Rizal Ramli sudah sangat menyadari bahwa tak ada warisan berlimpah berupa harta dan benda yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya kecuali sebuah “ajaran dasar”, yakni: tangguh dan tegar berjuang hadapi hidup hingga bermanfaat bagi banyak orang.

Dengan hanya “mengantongi” sepenggal ajaran dasar dari kedua orangtuanya itulah, Rizal Ramli pun mau tak mau sudah harus bisa memulai hidupnya dengan penuh ketegaran dalam kemandirian. Termasuk di saat sedang bersedih, ia harus bisa mengusap kepedihan dan menghapus air matanya sendiri dengan tegar.

Dari situ, bocah Rizal Ramli pun bisa tumbuh secara alami dalam “tempaan alam”, hingga kemudian mampu memiliki kematangan pola pikir serta nyali yang cukup tinggi dalam bertindak. Salah satunya terlihat ketika menjadi aktivis mahasiswa, yakni bagai Bima sang ksatria, ia dengan nyali yang sangat tinggi melangkah maju di baris terdepan melawan Rezim Korup Orde Baru (Orba).

Meski akibat dari keberaniannya itu ia harus dijebloskan selama hampir dua tahun ke dalam penjara di Sukamiskin-Bandung, namun setidaknya sejarah telah mencatat bahwa Rizal Ramli ketika itu telah berhasil menancapkan diri sebagai sosok pejuang pro-rakyat.

Seiring waktu berjalan, dengan kehidupan yang harus lebih banyak dilalui dalam kepedihan, kesedihan dan penderitaan, Rizal Ramli nyatanya mampu menjadi seorang Doktor Ekonomi (lulusan Boston University-Amerika Serikat).

Dan berkat ketegarannya berjuang yang pantang menyerah, Rizal Ramli pun akhirnya berhasil “tembus” masuk dalam Pemerintahan Presiden Gus Dur, yakni berturut-turut sebagai: Kepala Bulog, Menko Perekonomian, Menteri Keuangan. Lalu terakhir ia “dipecat” dari jabatannya sebagai Komisaris Utama di PT Semen Gresik dengan sebuah alasan yang amat “dangkal” oleh Pemerintahan SBY, yakni lantaran berani berpihak ke rakyat melakukan unjuk-rasa dengan menentang keras kenaikan harga BBM, tahun 2008 silam.

Kendati begitu, ketegaran dan keberaniannya berjuang untuk kepentingan rakyat hingga kini tak pernah surut. “Kualleangi tallanga natoalia. Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai!” teriak Rizal Ramli di atas podium saat tampil pada acara Debat-Publik sebagai salah satu kandidat Capres 2014 Konvensi Rakyat, di Ballroom Graha Pena, Makassar, Sulawesi Selatan (Minggu, 16/2).

Sungguh, ungkapan yang diteriakkan oleh Rizal Ramli tersebut sangatlah mencerminkan kemurnian dari jiwanya sendiri. Artinya, jiwa yang dimiliki oleh Rizal Ramli selama ini sesungguhnya sangat relevan dengan motto/semboyan yang “dianut” oleh Suku Makassar-Bugis tersebut, yakni: ”Sekali Layar Terkembang, Pantang Biduk Surut ke Pantai”.

Semboyan tersebut sebetulnya adalah sebuah penggalan Syair Sinrili’. Sinrili’ adalah salah satu bentuk kesenian lokal Suku Makassar yang tergolong dalam seni sastra bersenandung tutur diiringi petikan kecapi. Penggalan syair yang dijadikan motto tersebut adalah: “Takunjunga’ bangung turu’.. Nakugunciri’ gulingku.. Kuallengi Tallanga Natoalia”, yang artinya: “Layarku telah kukembangkang.. kemudiku telah kupasang.. aku memilih tenggelam dari pada melangkah surut”.

Semboyan itu melambangkan betapa masyarakat Suku Makassar-Bugis memiliki tekad dan keberanian yang tinggi dalam mengarungi kehidupan ini, sekaligus menunjukan semangat kepribadian yang pantang mundur untuk tetap maju menuju kebenaran meski nyawa harus menjadi taruhannya. Dan semboyan inilah yang sangat persis sama dengan jiwa yang dimiliki oleh Rizal Ramli.

Sebetulnya, semboyan itu adalah hasil penggalian dari “falsafah” Suku Makassar-Bugis, yakni: “Siri’ Na Pacce”. Siri’ adalah rasa malu dari sesuatu yang tabu; sedang Pacce adalah pedih yang mengajarkan untuk mengutamakan rasa kesetiakawanan dan kepedulian sosial daripada kepentingan diri sendiri. Dan istilah Pacce inilah yang juga sudah berhasil diperlihatkan oleh Rizal Ramli. Yakni ia lebih memilih untuk mengorbankan dirinya dengan dipenjara (juga rela dipecat) asalkan bisa memperjuangkan kepentingan orang banyak.

Suku Makassar-Bugis berpandangan, bahwa jika Siri’ Na Pacce tidak dimiliki oleh seseorang, maka prilaku seseorang tersebut dapat melebihi tingkah laku binatang, tidak memiliki rasa malu, harga diri, dan kepedulian sosial. Seseorang itu juga hanya ingin menang sendiri dan lebih senang mengikuti hawa nafsunya.

Istilah Siri’ Na Pacce sebagai sistem nilai budaya sangat abstrak dan sulit didefenisikan, karena Siri’ Na Pacce hanya bisa dirasakan oleh penganut budaya itu. Namun nilai filosofis dari Siri’ Na Pacce adalah merupakan gambaran dan pandangan hidup yang dapat menggerakkan dan menjadikan orang bisa tampil sebagai sosok yang reaktif, pelindung, militan, konsisten, optimis, loyal, bernyali kuat, dan berjiwa konstruktif nan cerdas.

Sehingga itu, sebetulnya rakyat Indonesia saat ini sangat membutuhkan lahirnya sosok pemimpin yang memiliki jiwa dan karakter yang mencerminkan Siri’ Na Pacce. Jika tidak, maka harga diri dan kedaulatan Indonesia akan selalu diinjak-injak oleh negara luar.

Dan jika menelusuri rekam-jejak (mulai nol kilometer) semua figur yang kini disebut-sebut ingin maju sebagai Capres, maka tak berlebihan jika disebutkan, bahwa hanya ada satu figur yang sejak dulu senantiasa bertindak atas dasar Siri’ Na Pacce hingga kini, yakni Rizal Ramli.
Ewako Karaeng... Ewako Puang...!!!

SALAM PERUBAHAN 2014...!!!

--------------

Sumber: KOMPASIANA

Kamis, 13 Februari 2014

“Rumah” Dari RR (Dari Rakyat untuk Rakyat)

[RR1online]:
LAGI, setelah sukses me-launching Rumah Cerdas, Januari 2014 lalu, di Gunungkidul-Yogyakarta yang kini telah ramai dikunjungi oleh pelajar setempat, DR. Rizal Ramli kali ini kembali membuka Rumah UKM (Usaha Kreatif Masyarakat) di Desa Gondosuli, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar-Jawa Tengah, pada Rabu (12 Februari 2014).

Tentu saja Rumah UKM tersebut bertujuan adalah di antaranya selain sebagai tempat bertemunya para pelaku UKM dalam memunculkan ide-ide kreatif usaha, juga diutamakan sebagai tempat menampung dan memasarkan hasil produksi industri rumah-tangga yang memang banyak digeluti oleh Warga Tawangmangu-Karanganyar tersebut.

Ketua Panitia Launching Rumah UKM,  Bimo Aji Sudarsono mengatakan, rumah ini dimaksudkan sebagai etalase produk usaha masyarakat (home-industry) di sekitar Tawangmangu.

“Kami sudah memetakan potensi setiap desa. Masing-masing memiliki usaha rakyat kreatif, yang mestinya terwadahi dalam sebuah etalase untuk memasarkan produk tersebut kepada masyarakat,” kata Bimo seraya menambahkan, bahwa Rumah UKM ini diprakarsai Forum Karanganyar Mapan yang dirintis oleh Agung Yudi Prasetyo.

Rumah UKM ini diadakan juga adalah untuk memudahkan para wisatawan (mancanegara maupun lokal) yang ingin memperoleh hasil-hasil atau produk industri rumah tangga Karanganyar seperti kerajinan tangan, berupa souvenir, makanan, minuman, dan aneka usaha kreatif lainnya.

Baik Rumah Cerdas maupun Rumah UKM adalah sama-sama diprakarsai oleh masing-masing warga setempat. Dan tentang ditunjuknya Rizal Ramli (RR1) sebagai tokoh sekaligus “icon” di kedua “rumah” tersebut adalah tidak lain karena adanya pertimbangan, bahwa sejauh ini Rizal Ramli memang di mata masyarakat sangat dikenal sebagai satu-satunya tokoh yang selalu tampil terdepan membela kepentingan rakyat sejak dulu tanpa membawa satu nama partai mana pun.

Artinya, RR1 melakukan semua itu tanpa harus ditunjang dan ditopang (pendanaan maupun fasilitas lainnya) dari satu partai politik mana pun. Sehingga apa yang dilakukan oleh Rizal Ramli tersebut di mata masyarakat memang benar-benar lebih bisa dipandang sebagai perjuangan murni dari RR (dari RAKYAT untuk RAKYAT).

Olehnya itu tak heran, sebagian besar rakyat saat ini, termasuk Warga Karanganyar pun menyambut gembira pencapresan Rizal Ramli yang kini sedang digodok oleh Komite Konvensi Rakyat untuk juga dapat maju dalam pilpres 2014.

SALAM PERUBAHAN 2014..!!!!

----------
Sumber: KOMPASIANA

Minggu, 15 Desember 2013

Konsistensi, Kekuatan Sekaligus Kelemahan Rizal Ramli

[RR1online]:
SALAHKAH jika orang berambisi ingin berkuasa? Tentu saja tidak! Hasrat untuk berkuasa adalah salah satu fitrah yang dianugrahkan Allah SWT kepada manusia. Keinginan berkuasa tidak beda halnya dengan hasrat manusia atas makan, minum, sex, dan lainnya. Semuanya sah dan boleh-boleh saja.

Yang jadi persoalan, dari semua naluri tadi adalah bagaimana cara pememenuhannya. Adakah rambu-rambu yang ditabrak? Begitu juga dengan kekuasaan, bagaimana cara meraih kekuasaan yang diidamkan itu? Pertanyaan lain yang tidak kalah penting, untuk apa kekuasaan yang (kelak) berada dalam genggamannya itu digunakan? Jika syahwat kekuasaan dipenuhi dengan cara menghalalkan segala cara, maka tentu saja itu salah besar. Begitu juga bila kekuasaan yang dimiliki digunakan untuk memupuk kekayaan diri dan kelompok di satu sisi, lalu abai terhadap rakyat di sisi lain; itu salah sangat besar.

Pada titik ini, amat menarik mencermati perjalanan seorang Rizal Ramli. Lelaki yang dikenal gigih dan konsisten menyuarakan keharusan menerapkan ekonomi konstitusi ini bisa disebut punya pengalaman yang komplet. Dia pernah berada di dalam dan luar lingkaran kekuasaan.

Uniknya, di mana pun berada 
"di dalam atau luar pemerintahan-- dia tetap saja konsisten dengan garis hidupnya. Itu antara lain ditunjukkan dengan sikap kritisnya terhadap International Monetary Fund (IMF), World Bank (WB) dan berbagai lembaga internasional lain yang dikenal sebagai kampiun sekaligus penebar mazhab neolib.

Saat di luar sistem,  Rizal Ramli kerap bersuara lantang menentang sistem ekonomi neoliberal yang dijalankan pemerintah. Perlawanannya terhadap berbagai kebijakan publik yang memiskinan rakyat, sudah dilakukan sejak Pak Harto masih sangat berkuasa. Bahkan pada 1978, bersama teman-temannya di ITB dia menulis Buku Putih yang membuat Penguasa Orde Baru itu gusar. Hasilnya, Rizal muda harus mendekam di penjara Sukamiskin, tempat Seokarno pernah menjadi penghuninya.

Ketika Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi Presiden, pendiri think tank ECONIT itu Ramli sempat masuk dalam pusat kekuasaan. Sejumlah jabatan penting dan strategis ada dalam genggamannya. Kepala Badan Urusan Logisitik (Bulog), Menteri Koordinator Perekonomian, dan akhirnya Menteri Keuangan pernah disandangnya. Sebelumnya, dia pernah menolak tawaran Gus Dur untuk menjadi Ketua Badan Pemerika Keuangan (BPK) dan Duta Besar Indoensia untuk Amerika Serikat. Kendati begitu, lagi-lagi dia tetap saja konsisten dan tidak berubah!

Ganti Aktor

Sejarah sepertinya senantiasa berulang. Ketika penguasa koruptif dan menzalimi rakyat, sekelompok orang memelopori gerakan untuk menumbangkan. Rezim pun berganti. Tapi, ketika mereka duduk di empuknya kursi Kekuasaan, para jagoan tadi mengulangi kesalahan serupa. Revolusi hanya melengserkan diktator lama dan melahirkan diktator baru. Anggur lama dalam botol baru!

Soeharto kembali mengulangi kesalahan Soekarno. Reformasi yang digulirkan 1998, ternyata hanya mengganti para aktor di panggung kekuasaan. Pemberantasan korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) yang menjadi agenda utama reformasi, kini justru tampil dengan lebih massif dan sistematis. Kesejahteraan rakyat kian jauh dari jangakauan, terbang entah ke mana.

Tabiat buruk sebagian besar aktivis itu sepertinya tidak berlaku pada Rizal Ramli. Siapa saja yang rajin menelusuri rekam jejaknya, akan sangat sulit --untuk tidak menyebut mustahil-- menemukan langkah miring tokoh yang diganjar gelar Capres paling ideal oleh The President Centre ini. Selama puluhan tahun, pria yang akrab disapa RR tersebut selalu setia di track yang sama. Menentang penindasan rakyat oleh siapa pun dan atas nama apa pun. Penasehat ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini terus saja menapaki jalan terjal penuh rintangan. Jalan yang membuat Indonesia maju dan rakyatnya sejahtera.

Tentu saja, konsisten adalah sesuatu yang amat berharga. Ia kini menjadi barang langka, di tengah perilaku tak elok yang secara berjamaah dipertontonkan para pejabat publik. Tapi buat Rizal Ramli, sikap konsisten yang menjadi kekuatannya itu, ternyata sekaligus menjadi titik lemah baginya. Paling tidak, begitulah pendapat Jeffrey Winters. Dia tidak bergeser dari prinsipnya untuk berkompromi, kendati hal itu dimaksudkan sekadar keperluan taktis.

Menurut Jeffery, kekuatan RR adalah konsistensi dan keberpihakannya pada rakyat dan kepentingan nasional. Dia juga konsisten melakukan perlawanan terhadap penguasa. Padahal, yang namanya iming-iming bukan tidak pernah disodorkan kepadanya. Pernah, begitu keluar dari penjara Sukamiskin pada 1979, Soeharto mengirim Sekjen Golkar Sarwono Kusumaatmaja untuk menawarkan posisi calon jadi DPR Golkar. Rizal Ramli dan tiga temannya menampik tawaran itu. Ehem… bandingkan bagaimana para aktivis yang pasca reformasi yang kini bertengger di kursi empuk kekuasaan legislatif dan eksekutif.

Harus Bermanfaat

Kembali soal ambisi terhadap jabatan dan kekuasaan, lagi-lagi Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) ini memang bisa disebut makhluk langka. Dulu, di awal kemenangan kaum reformis setelah menumbangkan Soeharto, dia menepis tawaran Amin Rais dan Arnold Baramuli untuk menjadi menteri BJ Habibie.  Dia juga menampik tawaran SBY untuk menjadi Menteri Perindustrian dan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.


Yang terbaru, Rizal Ramli menolak tawaran dari kepala staf Sekjen PBB untuk memimpin Economic & Social Commission of Asia and Pacific (ESCAP) alias Komisi Sosial Ekonomi Asia Pasifik.

Asal tahu saja, ESCAP bukanlah lembaga ecek-ecek. ESCAP adalah satu dari lima komisi kawasan yang dimiliki Dewan Ekonomi Sosial PBB atau ECOSOC. Didirikan pada 1947, ESCAP kini punya 53 anggota negara dan sembilan anggota asosiasi. Kantor pusat ESCAP di Bangkok, Thailand. Saat ini dipimpin oleh Sekretaris Eksekutif Noeleen Heyzer dari Singapura.

“Saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas tawaran jabatan yang prestisius itu. Namun, saya menolak karena masalah dan tantangan di Indonesia jauh lebih besar. Diperlukan kesungguhan untuk membuat Indonesia menjadi negara hebat di Asia,” ujar Rizal Ramli yang juga Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari penolakan Rizal Ramli terhadap begitu banyak jabatan penting dan bergengsi? Dia tidak gila kekuasaan. Tidak banyak orang di dunia ini, khususnya di Indonesia, yang pernah menolak tawaran jabatan bergengsi. Yang terjadi justru sebaliknya, mereka berlomba-lomba merengkuh jabatan dengan menghalalkan segala cara.

Kendati demikian, bukan berarti RR selalu menampik jabatan yang disorongkan kepadanya. Kadang dia juga mau. Tapi  Rizal Ramli  hanya bersedia menerima jabatan publik jika posisi itu bisa membantunya mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Sejarah mencatat dia menjadi Kepala Badan Urusan Logisitik (Bulog), Menteri Koordinator Perekonomian, dan akhirnya Menteri Keuangan. Capres paling reformis versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu pun pernah menjadi Preskom PT Semen Gresik. Benang merahnya, di mana pun berada dia selalu all out, berkerja keras dan cerdas dengan prestasi jauh di atas rata-rata.

Untuk sepak terjang dan rekam jejak Rizal Ramli, silakan baca Rizal Ramli, Lokomotif Perubahan; Langkah Strategis dan Kebijakan Terobosan. Juga bisa disimak pada judul Rizal Ramli, "Indonesia Makmur dan Digjaya di Asia". Kita juga bisa menyaksikannya melalui audio-visual: 




Inilah perbedaan utama Rizal Ramli dengan nama-nama yang bersliweran di media massa, cetak dan elektronik. Publik dengan mudah dapat menilai kualitas masing-masing individu. Tanpa bermaksud menghakimi yang lainnya, namun konsisten sepertinya sudah menjadi trade mark RR. Dia selalu meninggalkan jejak berupa keberpihakan kepada rakyat dengan jelas dan tegas.

Tapi mungkin layak disimak catatan Jeffrey buat pria yang di kalangan kaum Nahdiyin akrab disapa Gus Romli ini. Konsistensi adalah kekuatan sekaligus kelemahan Rizal Ramli. Hemmm…

---(Edy Mulyadi)
 Penulis adalah Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Sabtu, 30 November 2013

Ini Bukti Rizal Ramli Lebih Cinta Rakyat Daripada Dirinya


Kategori: Opini*
[RR1
online]:
ADA
beberapa hal penting yang patut ditunjuk pada diri Rizal Ramli sebagai bukti kecintaannya kepada Rakyat Indonesia sejak dulu, sekaligus dapat menjadi pembenaran bahwa Rizal Ramli selama ini sesungguhnya memang bukanlah sosok yang haus jabatan atau kedudukan.

Bukti pertama. Adalah, ketika masih aktif sebagai mahasiswa di ITB, Rizal Ramli telah mampu memperlihatkan cintanya kepada Rakyat Indonesia. Yaitu dengan gigih berjuang membela hak-hak rakyat melalui berbagai aksi pergerakan dalam melawan dan menentang pemerintahan Orde Baru (Orba).

Ketika itu Rizal Ramli pun harus diciduk, lalu dipaksa mendekam di penjara. Dan kala itu, Pemerintah Orba boleh saja menudingnya sebagai aktivis yang sangat berbahaya, tetapi Rizal Ramli di hati rakyat adalah sosok pejuang pembela hak-hak rakyat, punya jiwa pengabdian dan kecintaan yang sangat tinggi kepada negeri ini.

Sungguh, itulah awal pengabdian dan kecintaan Rizal Ramli terhadap rakyat. Sebab, jika mau dipikir-pikir, apa yang dicari oleh seorang mahasiswa seperti Rizal Ramli yang kala itu sampai-sampai berani menerima risiko (dipenjara) atas perlawanannya kepada Pemerintahan Orba? Apakah jabatan..? atau apa..??

Bukti kedua. Rizal Ramli kembali melakukan pergerakan perlawanan melalui aksi unjuk rasa di depan istana (tahun 2008), yakni menentang dan menolak kebijakan SBY yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta menuntut agar harga-harga sembako segera diturunkan. Mengapa Rizal Ramli begitu berani, padahal ia tak punya partai..??

Terlebih ketika itu, Rizal Ramli sedang menjabat posisi yang sangat strategis di salah satu BUMN, yaitu sebagai Komisari Utama PT. Semen Gresik (sekarang PT Semen Indonesia). Dan sepanjang sejarah manajemen di PT. Semen Gresik, Rizal Ramli adalah Komisaris Utama yang mampu mengukir prestasi dan kinerja tertinggi dibanding para pendahulunya.

Mana ada orang berani menentang kebijakan penguasa di saat sedang menduduki suatu jabatan..?? Sungguh, tak ada yang berani selain Rizal Ramli! Sebab, konsekuensinya adalah sebuah risiko, yakni dipecat. Dan risiko itulah yang benar-benar harus diterima oleh Rizal Ramli kala itu.

Sejauh ini di mata pemerintahan yang korup, memanglah selalu saja memandang Rizal Ramli sebagai sosok yang sangat berbahaya. Sehingga kebaikan apapun yang dilakukan Rizal Ramli untuk rakyat, tentunya selalu dianggap salah di mata penguasa yang korup tersebut.

Namun meski begitu, bagi Rizal Ramli, penjara dan pemecatan dirinya dari sebuah jabatan bukanlah masalah besar, apalagi sampai jadi penghalang dan menghentikan langkah perjuangannya. Sama sekali tidak! Bahkan, Rizal Ramli terlihat makin teguh dan bersemangat, serta tetap konsisten untuk selalu berada di pihak rakyat.

Bukti ketiga yang menunjukkan bahwa Rizal Ramli benar-benar cinta kepada Rakyat, sekaligus sebagai bukti dirinya bukanlah sosok yang haus jabatan dan kedudukan. Yaitu, baru-baru ini dirinya mendapat tawaran mulia, namun Rizal Ramli menolaknya dengan halus karena lebih memilih untuk dapat bertindak mulia di negeri sendiri.

Tawaran mulia tersebut berasal dari Kepala Staf Sekretaris Jenderal PBB via telepon, Kamis malam (28/11/2013), untuk menduduki jabatan sebagai Sekretaris Eksekutif ESCAP (Economic & Social Commission of Asia and Pacific).

ESCAP adalah satu dari lima komisi kawasan yang dimiliki Dewan Ekonomi Sosial PBB atau ECOSOC. Didirikan pada tahun 1947, ESCAP kini memiliki 53 anggota negara dan sembilan anggota asosiasi. Kantor pusat ESCAP berada di Bangkok-Thailand, dan saat ini dipimpin oleh Sekretaris Eksekutif Noeleen Heyzer dari Singapura.

Dalam penolakannya Rizal Ramli mengatakan, dirinya saat ini sedang fokus membenahi sejumlah persoalan yang tengah dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia. “Saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas tawaran jabatan yang prestisius itu. Namun, saya menolak karena masalah dan tantangan di Indonesia jauh lebih besar. Diperlukan kesungguhan untuk membuat Indonesia menjadi negara hebat di Asia,” terang Rizal Ramli, yang  kini baru saja dipercaya sebagai Ketua Umum Kadin. Dikutip rmol.

Apalagi selama ini, Rizal Ramli juga masih sementara aktif sebagai anggota Panel Ahli PBB bersama tiga penerima hadiah Nobel dan lima ekonom terkemuka di dunia. Bahkan belum lama ini ia baru kembali menghadiri pertemuan Panel Ahli PBB di New York, dan juga baru saja usai memberikan kualiah umum pada simposium internasional yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia di Universitas Thammasat, Bangkok-Thailand.

Dan bukti keempat yang tak terbantahkan. Yakni, meski tak punya kedua orangtua lagi di saat masih berusia 6 tahun, Rizal Ramli nyatanya lebih memilih memperjuangkan hak-hak rakyat di banding kepentingannya sendiri. Dan sekali lagi, perjuangan itu sudah dimulai sejak mahasiswa dulu dan hingga kini.

Artinya, sangat sulit bagi orang seperti Rizal Ramli yang sejak bocah telah berstatus yatim-piatu untuk tidak memperhatikan dirinya terlebih dahulu. Kalau anak zaman sekarang bilang begini: “Ngapain capek-capek ngurus dan bela-belain orang lain….”.

Tetapi sungguh, Rizal Ramli tidaklah demikian. Ia nampaknya telah berhasil ditempa oleh “alam” sejak dulu dengan beraneka-ragam kepahitan hidup yang harus dialaminya. Hingga kemudian jiwanya benar-benar berhasil terbentuk sebagai seorang pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingannya sendiri. Bukankah memang begitu sikap dan sifat mulia dari seorang yang benar-benar layak disebut pemimpin…???

Tanpa bermaksud mengerdilkan figur lain yang telah mengukuhkan diri sebagai orang yang paling tepat menjadi capres. Bahwa kita saat ini harusnya bisa secara sadar membedakan, mana sosok yang secara instan ingin menjadi pemimpin, dan mana sosok yang memang lahir sebagai pemimpin secara alami.

Maaf, saya belum bisa menunjuk seseorang telah layak dipercaya sebagai pemimpin rakyat di saat kemunculannya secara instan dimulai dari partai politik. Artinya, sebelum memasuki parpol, yang bersangkutan bukanlah siapa-siapa. Dan ini sangat berbeda dengan kemunculan Rizal Ramli yang sudah menjadi “apa-apa” meski tidak dilalui dalam sebuah parpol. Apalagi saat ini banyak figur yang muncul dari parpol satu ke parpol lainnya. Artinya, ketika ia merasa tak “puas” di parpol satu, ia lalu melompat ke parpol lainnya hanya demi mewujudkan “ambisinya” secara instan.

Sosok yang muncul secara instan, dan pemimpin yang digembleng dengan cara-cara rekayasa dalam parpol, tentunya hanya akan memunculkan jiwa kepemimpinan yang cenderung berpihak kepada kepentingan diri sendiri dan untuk keuntungan partai politiknya saja, bukan diluapkan untuk kepentingan rakyat sebagaimana yang sampai saat ini konsisten diperlihatkan Rizal Ramli. Itu pula kiranya alasan mengapa Rizal Ramli hingga saat ini tidak memasuki parpol tertentu.

Semoga saja ada parpol (bukan parpol korup) secara jeli mampu melihat sosok yang benar-benar selama ini mencintai rakyat daripada dirinya.

Salam Perubahan…!!!
-----------
*Sumber: Kompasiana

Minggu, 30 Juni 2013

Rizal Ramli Bangkitkan Semangat, Ajak Akhiri Zaman Jahiliah



[RR1-online]
MUNCULNYA kondisi buruk yang karut-marut pada Bangsa Indonesia saat ini sesungguhnya disebabkan oleh kelompok-kelompok yang punya pola pikir dan tingkah laku sama dengan di zaman Jahiliah. Dan kelompok tersebut saat ini sedang berkuasa. “Jadi boleh dikata, kita saat ini hidup di zaman Jahiliah,” ujar DR. Rizal Ramli dalam prolognya selaku narasumber dalam acara Diskusi Publik Perhimpunan Mahasiswa Jakarta (PMJ) yang mengusung tema: “Menelusuri Jejak Perjalanan Kasus Century & BLBI Sebuah Tantangan Penegakan Hukum di Indonesia”, Senin (17/6/2013), di Galeri Cafe, Taman Ismail Marzuki (TIM)-Jakarta.

Indonesia saat ini, menurutnya, benar-benar telah berada di zaman Jahiliah. Bisa disaksikan, korupsi (termasuk merampok uang rakyat), mengonsumsi narkoba, dan kegiatan yang menjurus pada amoral lainnya sudah seakan menjadi kegemaran bagi para penguasa dan elit-elit di negeri ini. Tak heran, kekacauan dan keresahan pun di mana-mana terjadi, tawuran, teroris, anarkis, pembantaian, kekerasan dalam rumah tangga, penculikan, nestapa TKI dan TKW, penindasan dan penggusuran PKL, dan lain-lain, semuanya terjadi tanpa diikuti dengan solusi.

“Banyak yang beribadah ke masjid, ke gereja dan di tempat-tempat ibadah lainnya, tetapi kelakuan penguasa dan elit-elitnya sungguh sangat terlihat jahiliah. Pengelolaan kekayaan alam Indonesia yang sangat melimpah, justru diserahkan kepada asing, bukannya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Parahnya, sudah begitu, penguasa malah merampas uang rakyat pula melalui kegiatan korupsi demi kepentingan kelompok dan golongannya semata,” jelas Menteri Koordinator Perekonomian era Presiden Gus Dur itu.

Namun Rizal Ramli yang kini aktif sebagai Ketua Aliansi Rakyat Untuk Perubahan (ARUP) ini mengaku optimis, Indonesia pada saatnya nanti akan bangkit dan segera membebaskan diri dari jeratan kelompok penguasa yang Jahiliah.

Tentang zaman Jahiliah ini, Rizal Ramli kembali memaparkannya pula dalam acara Sarasehan: “Trisakti Bung Karno dan Masa Depan Indonesia”, yang digelar dalam rangka memperingati Haul Bung Karno, pada Jumat (21/6/2013), di rumah salah satu tokoh masyarakat Jawa Tengah, Sugeng Setiadi, di Kubangan-Kelurahan Bumi, Lawean-Surakarta.

Sarasehan yang diprakarsai oleh Komunitas Marhaenis-Surakarta ini dipadati para sesepuh dan generasi muda Marhaenis beserta aktivis pelajar dan mahasiswa dari berbagai elemen organisasi se-Surakarta.

Dikatakannya, sepanjang Bangsa Indonesia selalu sadar dan mau bersatu untuk membebaskan diri dari zaman Jahiliah seperti saat ini, maka dirinya yakin Indonesia tidak akan Jahiliah lagi. “Bangsa Indonesia mulai saat ini harus bisa lebih jeli dan cerdas memilih pemimpin ke depan. Kita butuh pemimpin berani yang mampu membawa perubahan dan punya karakter yang kuat seperti Bung Karno. Bung Karno menasionalisasi 180 perusahaan milik Belanda dan asing jadi BUMN,” ungkap tokoh oposisi nasional DR. Rizal Ramli.

Sekali lagi, pakar sekaligus senior di bidang Ekonomi ini mengaku yakin perubahan akan segera dimulai. Indonesia akan mampu bangkit bersamaan dengan diakhirinya kekuasaan pemimpin Jahiliah.>map/ams

Jumat, 31 Mei 2013

Rizal Ramli: Saya Sedih, Ibu dan Anak Berpisah Karena Jadi TKW

[RR1-online]
RIZAL Ramli mengaku sangat sedih saat mengetahui ibu-ibu harus berpisah dengan anak dan suaminya karena pergi ke luar negeri menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita).

“Ini tidak boleh berlangsung terus. Jika saya menjadi presiden, insyaAllah dalam lima tahun kita akan  mengejar Malaysia. Lapangan pekerjaan akan banyak terbuka lebar. Rakyat Indonesia akan jauh lebih sejahtera,” tegas calon presiden alternatif versi The President Center, DR Rizal Ramli, pada acara diskusi bertajuk ‘Hitam Putih Capres 2014’; Siapa Pantas Siapa Tidak? yang digelar oleh Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), di Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (9/5/2013).

Apa yang dikatakan oleh Rizal Ramli tersebut bukanlah semata janji, tetapi merupakan bagian dari kompetensi pengalaman dan kondisi kapasitas dirinya yang selain pernah menjabat Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Perekonomian  di era Presiden Gusdur, juga saat ini Rizal Ramli adalah Penasehat Ekonomi dunia di PBB.

Dikatakannya, banyaknya kisah pilu yang membelit para TKW dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, memang sudah semestinya dihentikan segera. Nasib para pahlawan devisa yang telah menggelontor miliaran dolar setiap tahun ke dalam negeri, ternyata masih saja menyedihkan dan memprihatinkan.

Menjelang berangkat, mereka harus menjual sawah, ternak atau sisa harta lainnya agar bisa menyetor sejumlah dana yang lumayan besar.  Sambil menunggu diberangkatkan ke luar negeri, mereka tinggal di penampungan-penampungan perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang umumnya jauh dari layak.

Namun ketika di luar negeri, para pahlawan keluarga tersebut ternyata tak jarang  menerima perlakuan yang menyakitkan. Pelecehan, siksaan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mereka tidak menerima gaji. Mereka diperlakukan bagai budak belian yang berpindah tangan dari satu majikan ke majikan lainnya.

Saatnya pulang yang amat ditunggu-tunggu pun, malah bukan akhir dari penderitaan. Di bandara khusus TKI, mereka diperas oleh para oknum aparat yang digaji rakyat dengan tugas seharusnya melayani dan melindungi mereka. Begitu keluar ke halaman parkir bandara, para calo dan preman siap 'menyantap' mereka. Tidak jarang para buruh migran ini sampai di rumah dengan tangan hampa. Uang dan barang bawaan habis dijarah. Syukur-syukur jika bisa sampai di rumah dengan selamat pun sepertinya sudah menjadi 'anugrah'.

“Semua penderitaan itu terjadi karena pemimpin Indonesia tidak memiliki visi dan karakter yang tegas. Kita tidak ingin hal ini terus terjadi. Dengan visi yang jelas dan karakter yang tegas, insya Allah saya akan membawa bangsa Indonesia digdaya dan disegani di Asia. Dalam lima tahun, dengan izin Allah dan pertolongan teman-teman sekalian, saya akan bawa rakyat Indonesia menjadi jauh lebih sejahtera, bahkan mengalahkan Malaysia,” tegas Rizal Ramli.

Menurut dia, mengalahkan Malaysia di sini bukanlah pada jumlah gedung bertingkat. Jakarta memiliki gedung bertingkat lebih banyak dan lebih bagus dibandingkan Malaysia. Jumlah orang kaya Indonesia juga lebih banyak daripada Malaysia. Begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, lebih tinggi dibandingkan Malaysia.

"Yang saya maksudkan mengalahkan Malaysia adalah soal kesejahteraan rakyatnya. Upah buruh kita hanya sepertiga daripada upah buruh Malaysia. Tingkat kesejahteraan rakyat kita hanya nomor lima di ASEAN. Saat ini cuma sekitar 20% rakyat Indonesia yang bisa menikmati berkah kemerdekaan. Sisanya yang 80% masih terperangkap dalam kemiskinan dan kebodohan. Inilah yang akan kita kejar. Insya-Allah, dalam lima tahun kita bisa mengalahkan Malaysia,” urainya.

Di sisi lain, Ketua Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) ini mengakui memang tidak bisa serta-merta menghentikan pengiriman TKI dan TKW ke luar negeri. Namun dia bertekad akan membuka lapangan kerja seluar-luasnya di dalam negeri. Ditambah peningkatan kesejahteraan rakyat menjadi 3 hingga 4 kali lipat dibanding sekarang, dengan sendirinya pengiriman buruh migran ke luar negeri akan jauh berurang, bahkan terhenti dengan sendirinya.>edy/ams

Bisa-bisa SBY hanya Jadi Catatan Kaki dalam Sejarah Indonesia

[RR1-online]
SETIAP kepala negara maupun kepala daerah di Indonesia, pasti akan meninggalkan legacy atau warisan yang bisa diingat rakyat sepanjang masa. Lalu, kira-kira apa legacy yang akan ditinggalkan SBY kepada bangsa Indonesia? Pertanyaan ini tidak hanya sering dilontarkan oleh para ahli dan pengamat sosial dari dalam dan luar negeri, tetapi masyarakat awam pun acapkali mencari-cari hal istimewa seperti apa gerangan yang akan ditinggalkan oleh SBY ketika tidak lagi menjadi presiden?

“Pertanyaan ini sangat sulit dijawab karena pencitraan yang jadi model SBY tidak akan menghasilkan legacy apa-apa. Pencitraan tidak original, penuh topeng kepalsuan dan lipstik rekayasa,” ujar Ketua Aliansi Rakyat Untuk Perubahan (ARUP), DR. Rizal Ramli, kepada Harian Kedaulatan Rakyat di gedung Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Sabtu (30/3/2013).

Menteri Kordinator Bidang Perkonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) ini mengatakan, setelah 9 tahun berkuasa tidak ada legacy yang ditinggalkan SBY kepada rakyat Indonesia.

Diakuinya, pertumbuhan ekonomi di pemerintahan SBY memang lumayan bagus, rata-rata mencapai 6 persen. Namun, hal itu tercapai terutama karena akibat adanya kenaikan harga komoditi yang terjadi secara terus-menerus selama 10 tahun terakhir. Jika tidak tergenjot dengan kenaikan harga ini maka angka pertumbuhan ekonomi kita hanya sekitar 4 persen saja.

Rizal Ramli mengungkapkan, memang betul 5 persen kelas atas di Indonesia semakin makmur dan kaya. Bahkan 2,5 persennya sangat luar biasa kaya. Tetapi, 80 persen rakyat Indonesia dari sisi kesejahteraan masih bermasalah. Daya beli masyarakat semakin merosot karena banyaknya pengangguran dan harga pangan yang meloncat luar biasa tinggi.

Penasehat Ekonomi PBB ini juga menguraikan, bahwa jika menggunakan index pembangunan manusia (human development index) yang dikeluarkan oleh PBB, menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan Indonesia paling rendah di Asean, berada di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand.

Dalam konteks perkembangan demokrasi, jejak legacy SBY juga tidak ada. Santri Gus Dur yang dijuluki Gus Romli ini juga menilai, SBY telah membiarkan demokrasi prosedural menjadi demokrasi kriminal. Bahkan membiarkan menteri dan kaderkader partai binaannya menjadi pelaku uta-ma korupsi di Indonesia.
Dari segi perlindungan terhadap manusia dan hak-hak minoritas juga sama. Pemerintah SBY nampak menutup mata terhadap berbagai pelanggaran hak-hak warga negara dan minoritas.

Dengan prestasi seperti itu Rizal Ramli mengaku bisa paham dan menilai wajar jika para ahli kuatir puluhan tahun ke depan SBY hanya dianggap sebagai footnote (catatan kaki) dalam sejarah Indonesia.

Untuk itu sebagai kawan lama sekaligus selaku anak bangsa, dirinya merasa perlu mengingatkan SBY untuk segera melakukan perubahan total dalam cara memimpin dan mengelola pola pemerintah serta tidak lagi membohongi rakyat.

“Sayang kalau Mas Bambang (SBY) hanya jadi sekadar catatan kaki dalam sejarah Indonesia. Masih ada 1,5 tahun lagi untuk melakukan langkah besar untuk mengelola pemerintahan dengan benar dan baik,” tutur Rizal Ramli.

Rizal Ramli pun mengurai kembali, setiap Presiden Indonesia meninggalkan legacy atau warisan yang diingat rakyat. Presiden RI pertama, Soekarno, dikenal sebagai proklamator dan pendobrak sekaligus pembebas Indonesia dari kolonialisme. Soekarno juga meninggalkan warisan Pancasila sebagai pegangan ideologis berbangsa dan bernegara.

Presiden RI kedua, Soeharto, meski melakukan banyak pelanggaran HAM, berlaku otoriter dan tidak demokratis, dikenal sebagai Bapak Pembangunan. Sementara presiden berikutnya, BJ Habibie, memanfaatkan gelombang reformasi untuk memantapkan demokrasi dan memulai sejarah kebebasan pers di Indonesia.

Adapun Gus Dur, dalam masa jabatannya yang meski pendek, tetapi meninggalkan legacy pluralisme dan humanisme. Sedangkan pengganti Gus Dur, yakni Megawati Soekarnoputri, terkenal sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia yang tak henti-hentinya melakukan perjuangan dalam menegakkan demokrasi di tanah air.>nt/ams